KELUARGA

KELUARGA
NAJA BANA ZADA

Senin, 03 November 2025

Amalan-Amalan Eyang Nurrohman al Djamhari

 


PEMBUKAAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan ringkasan biografi atau perjalanan hidup dari eyang Nurrohman al Djamhari.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw Sang suri tauladan dan kita harapkan syafa’atnya di hari kiamat kelak.

Niat penulis menghadirkan buku ini, adalah untuk mengenang dan mengingat kembali sebagian amaliyah-amaliyah yang baik dari eyang Nurrohman al Djamhari. Serta agar semua amal baik eyang Nurrohman al Djamhari bisa ditiru oleh anak cucu pada khususnya, dan para pembaca buku ini pada umumya. Di dalam buku ini, penulis sertakan tambahan sedikit dalil-dalil baik dari Al-Qur’an, hadits maupun qaul ulama yang menjadi landasan dasar hukum amaliyah-amaliyah dari eyang Nurrohman al Djamhari.

Dengan mengharap rido dan pertolongan dari Alloh SWT, semoga keberadaan buku yang ringkas ini dapat bermanfaat untuk anak cucu eyang Nurrohman al Djamhari khususnya dan para pembaca pada umumnya.

 Purwokerto, 20 Oktober 2025

Umar Faruqi, S.H.I

DAFTAR ISI

Pembukaan……………………………………………………………

Daftar Isi………………………………………………………………

Profil Eyang Nurrohman al Djamhari…………..………….…………

Meneruskan Perjuangan KH. Ahmad Chusnan………………………

Rajin Membaca Al-Qur’an……………………………………………

Mengamalkan Sholat-Sholat Sunnah…………………………………

Menghidup-hidupkan Waktu Antara Maghrib dan Isya………………

Puji-pujian Favorit……………………………………………………

Sholat Witir Sebelum Tidur………………………………………….

Dzikir Fida……………………………………………………………

Dzikir dan Do’a Sebelum Sholat Shubuh……………………………

Mengusap Wajah Setelah Selesei Sholat……………………………

Rutin Membaca Lam Yahtalim………………………………………

Membaca Musabbi’at………………………………………………

Menjadi Muroqqi……………………………………………………

Membaca Do’a Hizib…………………………………………………

 


Profil Eyang Nurrohman Al Djamhari

Eyang Nurrohman al Djamhari lahir sekitar tahun 1945 di Sidabowa dari keluarga berlatar belakang kaum petani, memiliki bapak bernama H. Mad Kholil bin Muhamad Yusuf bin Samenggala bin Candrayasa. Sedangkan ibunya bernama Eyang Sumidah yang nasabnya masih keturunan dari eyang Wangsa menggala. Eyang Nurrohman al Djamhari memiliki Saudara laki-laki bernama Madirwan dan Sumeri serta saudara perempuan bernama Rodiyah.

Eyang Nurrohman al Djamhari berkeluarga ketika berusia 24 tahun dengan menikahi eyang Tasniyah. Setelah menikah, sebagaimana tradisi di sidabowa pada saat itu, ada perubahan atau penambahan nama, yang tadinya hanya nama Djamhari, kemudian ditambah menjadi eyang Nurrohman al Djamhari. Jadi penggunaan nama “al” disini adalah bentuk singkatan dari “alias”, bukan menunjukkan nama suatu marga. Dari pernikahan ini, eyang Nurrohman al Djamhari dikaruniai tujuh anak, yakni secara urut : Muslihah, Mu’tiyah, ‘Asykariyah, Munawaroh, Jamaludin, Umar Faruqi, dan Achmad Maimun. Eyang Nurrohman al Djamhari mengenyam pendidikan formal SR (Sekolah Rakyat) setingkat dengan Sekolah Dasar. Tetapi tidak meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dikarenakan kondisi pada saat itu yang sakit-sakitan dan juga karena faktor finansial.

Eyang Nurrohman al Djamhari lebih aktif menimba ilmu agama dengan mengaji kepada tokoh pemuka Agama di Sidabowa pada saat itu, diantaranya Eyang Dulah Muslim. Selain itu, Eyang Nurrohman al Djamhari juga pernah dibawa oleh eyang H. Mad Kholil ke Desa Pageraji kecamatan Cilongok untuk menimba ilmu kepada Mbah Nuh (KH. Muhammad Nuh al-Hafidz), yang mana mbah Nuh ini adalah salah satu santri dari mbah KH M. Munawwir Krapyak Yogyakarta. Selain di Pageraji, Eyang Nurrohman al Djamhari juga pernah menimba ilmu di pondok Leler Randegan Kebasen melalui ngaji pasaran di bulan Romadhon. Setelah hidup berkeluarga, ilmu agama eyang Nurrohman al Djamhari didapat dari KH.Ahmad Chusnan dan bahkan sampai mendekati sisa umurnya, eyang Djamhari masih sempat mengaji Kitab Tafsir Murahul Labid karya Syekh Nawawi al Bantani kepada KH. Ahmad Kholidin, walaupun sampai diantar jemput oleh salah satu temannya yang benama H. Kiswanto. Oleh karena eyang Nurrohman al Djamhari sangat mencintai ilmu, beliau selalu berpesan kepada anak cucu agar selalu mementingkan mencari ilmu sebagai bekal hidup di dunia sampai akherat, serta dengan wasilah ilmu menjadikan manusia terhormat dan mempunyai derajat yang tinggi. Hal ini sesuai dengan Firman Alloh SWT QS. Al Mujadilah ayat 11:

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

“Alloh SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

عن ابي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا الى الجنة[1]

“Dari Abu Hurairah R.A, bahwasanya Rosululloh saw bersabda: Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh SWT mudahkan baginya jalan menuju surga”

Meneruskan Perjuangan KH.Ahmad Chusnan[2]

Setelah KH. Ahmad Chusnan wafat, menjadikan eyang Nurrohman al Djamhari yang mendapat amanah untuk melanjutkan estafet perjuangan Beliau. Yakni memimpin jamaah langgar tengah atau sekarang lebih dikenal dengan nama musholla Al-Wustho. Dengan tekad yang kuat serta mengharap ridho Alloh dan luberan barokah sang guru, eyang Nurrohman al Djamhari merawat langgar tengah dengan berbagai aktifitas keagamaan sebagaimana yang telah diajarkan oleh sang guru yakni KH.A.Chusnan. Diantaranya ialah meng istiqomahkan jama’ah sholat fardhu lima waktu.

Bagi sebagian orang, tentu sangatlah berat dalam menjaga konsistensi sholat fardhu berjama’ah. Dengan terus berdo’a agar diberi kekuatan oleh Alloh SWT, eyang Nurrohman al Djamhari mampu melakukan istiqomah jama’ah sholat fardhu lima waktu di musholla Al-Wustho atau langgar tengah selama tidak ada halangan sakit atau udzur bepergian. Tentu saja amaliyah ini sudah sesuai dengan tuntunan dari Nabi Muhammad Saw, sebagaimana tertuang dalam sabdanya:

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال صلاة الجماعة افضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة (متفق عليه)[3]

“Dari Ibnu Umar R.A, bahwasannya Rosululloh Saw bersabda: Sholat jama’ah itu lebih utama daripada sholat sendirian dengan (selisih) dua puluh derajat (Muttafaq ‘alaih)”

Selain mempraktekkan dan memberi contoh kepada para santri-santi eyang KH.A. Chusnan para jama’ah langgar Tengah/musholla al Wustho akan keistiqomahan dalam sholat jama’ah lima waktu, eyang Nurrohman al Djamhari juga terus memberikan support sebagai penyemangat para jama’ah untuk terus beramal sholeh dalam rangka mengabdi kepada Alloh SWT melalui siraman-siraman rohani di setiap kesempatan setelah selesai sholat. Karena salah satu pesan Beliau, hidup di dunia ini hanyalah sebentar, tugas kita adalah beribadah sampai mati untuk bekal di alam akherat. Hal ini sesuai dengan QS. al Hijr ayat 99:

واعبد ربك حتى يأتيك اليقين

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini(yaitu ajal)”

Rajin Membaca Al-Quran

Diantara amalan eyang Nurrohman al Djamhari yang perlu ditiru anak cucu dan para pembaca pada umumnya adalah rajin membaca ayat suci al-Qur’an. Salah satu kelebihan dari Eyang Nurrohman al Djamhari adalah mampu membaca al-Qur’an dengan cepat, karena sudah lancar (lanyah) memahami bacaan Al-Qur’an tersebut, sehingga Beliau mampu menghatamkan bacaan al-Quran dalam tujuh hari. Biasanya do’a khotmil Qur’annya dibaca setiap malam Jum’at ba’da maghrib setelah yasin tahlil. Kita sebagai generasi penerusnya, hendaknya meniru sifat rajinnya eyang Nurrohman al Djamhari dalam mendarus/membaca al-Quran sesuai dengan tingkat kemampuan kita masing-masing. Karena ibadah membaca al-Quran ini sangatlah penting, yakni dapat menjadi penolong bagi kita selaku pembaca al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat imam Muslim, yang berbunyi:

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم  يقول اقرءوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه[4]

“Dari Abi Umamah R.A berkata, saya mendengar Rosululloh Saw bersabda: Bacalah kamu sekalian al-Quran, karena sesungguhnya al-Qur’an itu akan datang kelak di hari kiamat sebagai syafaat (penolong) bagi orang yang membacanya.”

Eyang Nurrohman al Djamhari juga pernah memberikan motivasi kepada para jama’ah Musholla al-Wustho yang notabene sudah sepuh-sepuh dan belum lancar membaca Al-Qur’an, agar terus bersemangat untuk menyimak bacaan Al-Qur’an dan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak-banyaknya. Karena itupun ada tuntunan dalilnya, sebagai berikut:

وإذا قرئ القرأن فاستمعو اله وأنصتوا لعلكم ترحمون

“Dan apabila dibacakan Al-qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapatkan rahmat.” (Q.S. Al-A’raf:204)

عن أنس رضي الله عنه أن رجلا قال يارسول الله إني أحب هذه السورة قل هوالله أحد قال إن حبهاادخلك الجنة (رواه الترمذي وقال حديث حسن)[5]

“Dari Anas R.A, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Wahai Rasululloh Saw sesungguhnya aku menyukai surat ini Qul Huwallohu Ahad, Rasululloh Saw bersabda: Sesungguhnya mencintai surat al Ikhlas itu menjadikanmu masuk ke dalam surga.”

Mengamalkan Sholat-Sholat Sunnah

Eyang Nurrohman al Djamhari memiliki prinsip selama badan sehat dan kuat, maka akan dipergunakan untuk melakukan ibadah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Termasuk dalam hal sholat-sholat sunnah, eyang Nurrohman al Djamhari melakukannya dengan istiqomah, yakni sholat sunnah rowatib dan lainnya. Hal ini sesuai dengan tuntunan dari Rosululloh Saw di berbagai hadis-hadisnya, diantaranya:

وعن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها (رواه مسلم)[6]

“Dari “Aisyah R.A, dari Nabi Muhammad Saw bersabda: (sholat sunnah) dua roka’at fajar (subuh) itu lebih baik daripada dunia beserta isinya.”

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين قبل الظهر وركعتين بعدها (متفق عليه)[7]

“Dari Ibnu Umar R.A berkata: saya sholat bersama Rosululloh Saw dua roka’at (sholat sunnah) sebelum Dzuhur dan dua roka’at setelah Dzuhur.”

وعن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال رحم الله امرأ صلى قبل العصر اربعا ( رواه ابوداود والترمذي وقال حديث حسن )[8]

“Dari Ibnu Umar R.A, dari Nabi Muhammad Saw bersabda: Alloh SWT merahmati seseorang yang sholat sebelum ‘Asar empat roka’at.”

عن عبد الله بن مغفل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال صلوا قبل المغرب ثم قال فى الثالثة لمن شاء (رواه البخاري)[9]

“Dari Abdullah bin Mughoffal R.A, dari Nabi Muhammad Saw bersabda: Sholatlah kalian semua sebelum sholat maghrib, kemudia Nabi bersabda di ucapan yang ketiga bagi siapa saja yang mau.” (HR. Imam Bukhori).

باب سنة العشاء بعدها وقبلها فيه حديث ابن عمر السابق صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين بعدالعشاء, وحديث عبدالله بن مغفل بين كل اذانين صلاة (متفق عليه)[10]

“Bab sunnahnya sholat setelah dan sebelum sholat Isya, ini terdapat hadisnya Ibnu Umar sebagaimana telah disebutkan: saya sholat bersama Nabi Muhammad Saw dua roka’at setelah sholat Isya, dan ada hadisnya Abdulloh bin Mughoffal, bahwa diantara adzan dan iqomah itu ada sholat (sunnah).”

Selain Sholat Sunnah Rowaib, eyang Nurrohman al Djamhari juga melakukan sholat sunnah lain yang biasanya dilakukan bersama-sama dengan jamaah musholla al-Wustho, diantaranya sholat Sunnah Anisil Qobri, sholat sunnah Tasbih, bahkan pernah melakukan sholat sunnah seratus roka’at[11]. Adapun dalil-dalil yang menjadi dasar pijakan hukumnya adalah sebagai berikut:

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لايأتي على الميت أشدمن الليلة الأولى فارحموا باالصدقة من يموت فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما اي فى كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة وأيةالكرسي مرة وألهكم التكاثر مرة وقل هو الله أحد عشر مرات. ويقول بعدالسلام اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان. فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور[12]

“Diceritakan dari Nabi Muhammad Saw, bahwasannya Beliau bersabda: Tidaklah datang kepada mayyit perkara yang lebih berat daripada pada malam pertama. Maka kasihanilah orang yang sudah meninggal dengan shodaqoh (untuk atas nama si mayit). Barang siapa yang tidak menemukan (sesuatu untuk dishodaqohkan), maka hendaklah ia melakukan sholat dua rokaat, ia membaca di dalamnya maksudnya di setiap rokaat dari kedua rokaat, fatihah kitab (surat Al-Fatihah) sekali, ayat kursi sekali, surat Alhakumuttaka tsur (surat At-Takatsur) sekali, surat Qul huwallahu ahad (Surat Al-Ikhlas) sepuluh kali, dan membaca doa setelah salam “Ya Allah sesungguhnya aku melakukan sholat ini dan Engkau mengerti apa yang aku inginkan. Ya Allah limpahkanlah pahala sholat ini kepada kuburan fulan bin fulan (sebutkan nama keluarga yang meninggal)”. Maka Allah akan mengutus seketika itu kepadanya (mayyit) seribu malaikat, di mana setiap malaikat membawa cahaya dan hadiah untuk menentramkannya/menghibur sampai hari ditiupnya sangkakala.”

            Seingat penulis, Eyang Nurrohman al Djamhari pernah dua kali melakukan sholat sunnah seratus rokaat ketika malam nisfu Sya’ban bersama jamaah musholla al-Wustho. Setelah itu, mengingat dan menimbang jamaahnya sudah sepuh-sepuh, jadi Beliau memutuskan untuk melakukan sholat sunnah tasbih, tidak sholat sunnah seratus roka’at.

 

Menghidup-hidupkan Waktu

Antara Magrib dan Isya

Salah satu kesukaan amaliyah eyang Nurrohman al Djamhari ialah menghidup-hidupkan waktu antara Maghrib dan Isya. Yakni di saat itu Beliau tidak pulang ke rumah, tetapi memanfaatkannya untuk melakukan ibadah dari Maghrib sampai Isya di Musholla al-Wustho dalam keadaan suci. Diantara ibadah yang dilakukan Eyang Nurrohman al Djamhari ialah Sholat Jama’ah Maghrib, sholat sunnah ba’diyah maghrib, shollat sunnah awwabin enam rokaat, sholat sunnah tsubutul iman, melakukan amalan dzikir thoriqoh Syadziliyyah, membaca al-Qur’an dan sesekali memberikan pesan-pesan keagamaan kepada para jama’ahnya. Yang kesemuanya itu dilakukan eyang Nurrohman al Djamhari selama Beliau dalam keadaan sehat dan tidak ada tamu. Adapun dalil-dalil yang menjadi dasar amaliyah Beliau, diantaranya:

عن ابي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لايزال احدكم في صلاة مادامت الصلاة تحبسه لايمنعه ان ينقلب إلى اهله إلا الصلاة (متفق عليه)[13]

“Dari Abu Hurairah R.A, bahwasanya Rosululloh saw bersabda: seseorang diantara kamu sekalian tetap (dihitung pahala sedang sholat) selama dia ditahan (menunggu) sholat, tidaklah ada yang mencegahnya untuk kembali kepada keluarganya kecuali (telah selesai) sholat.”

عن ثوبان رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من عكف نفسه مابين المغرب والعشاء فى مسجد جماعة لم يتكلم إلا بصلاة وقرآن كان حقا على الله تعالى أن يدخل الجنة[14]

“Dari Tsauban R.A berkata, Rosululloh Saw bersabda: barangsiapa menahan dirinya diantara Maghrib dan Isya untuk berada di dalam masjid melakukan sholat jama’ah dan tidak berbicara melainkan hanya melakukan sholat dan membaca Al-Qur’an, maka baginya berhak masuk surga atas rahmat Alloh.”

عن ابي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال من صلى ست ركعات بعد صلاة المغرب لم يتكلم بينهن بسوء عدلن له بعبادة اثنتي عشرة سنة[15]

“Dari Abu Hurairah R.A, dari Rosululloh saw bahwasanya Beliau bersabda: barangsiapa sholat enam roka’at setelah sholat Maghrib dengan tidak diselingi perkataan yang jelek, maka pahalanya seperti ibadah selama dua belas tahun.”

Kebiasaan eyang Nurrohman al Djamhari menghidup-hidupkan waktu antara Maghrib dan Isya ini merupakan perbuatan yang disukai (mustahab) oleh para kekasih Alloh untuk bermunajat mendekatkan diri kepada sang Khaliq. Beliau juga mengamalkan sholat sunnah yang sering disebut-sebut sebagai tsubutul iman (agar ditetapkan iman). Hal ini sebagaimana tertuang dalam kitab I’anatut Tholibin sebagai berikut:

من أحب ان يحفظ الله عليه إيمانه فليصل ركعتين بعد سنة المغرب يقرأ فى كل ركعة فاتحة الكتاب وقل هو الله أحد ست مرات والمعوذتين مرة مرة. فإذا سلم رفع يديه وقال بحضور القلب اللهم إني أستودعك إيماني فى حياتي وعند مماتي فاحفظه علي إنك على كل شيئ قدير ثلاثا[16]

“Barangsiapa yang menginginkan agar Alloh SWT menjaga iman seseorang tersebut, maka sholatlah dua roka’at setelah sholat sunnah ba’diyah Maghrib, adapun di tiap roka’at membaca surat al-Fatihah, surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Ketika selesai salam, berdoa mengangkat kedua tangan dengan cara menghadirkan hatinya mendekat kepada Alloh SWT: Yaa Alloh sesungguhnya saya titipkan imanku kepadaMu didalam hidupku dan ketika saat matiku, maka Jagalah iman itu untukku, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.”

Pada waktu antara Maghrib dan Isya ini, juga dimanfaatkan oleh eyang Nurrohman al Djamhari untuk mengamalkan dzikir thoriqoh Syadziliyyah. Amalan Thoriqoh Syadziliyyah ini diperoleh dari ijazah bai’at kepada Mbah KH.Toifur bin Abdurrohman al-Hasani Somalangu Sumberadi Kebumen. Ikut kepada salah satu thoriqoh yang mu’tabar merupakan hal yang sangat baik, bahkan sangat dianjurkan agar kita memiliki sifat-sifat yang baik dan senantiasa mengingat/dzikir kepada Alloh SWT. Hal ini sesuai dengan keterangan di dalam kitab Fuyudotur Robbaniyyah:

فإن كان الدخول فى الطريقة هو التعلم بتزكية النفس عن الرذاءل وتحليتها بالمحامد ففرض عين وان كان المراد به هو الدخول فى الطريقة المعتبرة المخصوصة بالذكر والأوراد فمن سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Jika  masuk di dalam tarekat adalah untuk belajar mensucikan hati dari akhlak-akhlak yang hina dan menghiasinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji maka hukumnya wajib/fardu ain. Namun, jika yang dikehendaki dengan masuk ini adalah masuk dalam tarekat muktabar yang terkhusus dengan zikir dan wirid-wirid, maka itu termasuk sunah Rasulullah Saw.”

Waktu antara Maghrib dan Isya, juga dimanfaatkan eyang Nurrohman al Djamhari untuk membaca sholawat munjiyat seribu kali yang dibaca secara berjama’ah bersama jamaah musholla al-Wustho setiap malam Rabu. Tentunya membaca sholawat Nabi Muhammad Saw sudah jelas dalilnya di dalam Al-Qur’an dan Hadis-hadis. Ternyata amalan sholawat munjiyat ini merupakan ajaran atau amalannya mbah KH. Dalhar Watucongol.

Mengenai sejarah sholawat munjiyat ini berasal dari orang arif salah satu pemuka thoriqoh Syadziliyyah yaitu syekh Sholih Musa ad-Dhorir yang tertuang dalam kitab al-Fajr Munir fi Sholat alal Basyir wan Nadzir karya syekh Umar bin Ali bin Salim al-Fakihani, halaman 25:

وأخبرني الشيخ الصالح موسى الضرير رحمه الله تعالى أنه ركب فى البحر قال وقامت عليناريح تسمى الأقلابية قلّ من ينجو من الغرق وضج الناس خوفا من الغرق قال فغلبتني عيناي فنمت فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقول قل لأهل المركب يقولون ألف مرة اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الأهوال والآفات وتقضي لنا بها جميع الحاجات وتطهرنا بها من جميع السيئات وترفعنا بها عندك أعلى الدرجات وتبلغنا بها أقصى الغايات من جميع الخيرات فى الحياة وبعد الممات.قال فاستيقظت وأعلمت أهل المركب بالرؤيا فصلينا بها نحو ثلاثمائة مرة ففرج عنا

“Syekh Shalih Musa ad-Dharir rahimahullah mengabarkan kepadaku bahwa beliau mengendarai perahu, lalu berkata: “Badai yang dikenal dengan sebutan Aqlabiyah menyerang kami, sangat sedikit orang yang selamat dari tenggelam sebab badai tersebut. Manusia berteriak karena khawatir akan tenggelam. Lalu aku diserang rasa kantuk, hingga akhirnya aku tertidur. Dalam mimpi Aku melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Katakan pada penumpang perahu, agar mereka membaca shalawat berikut: ‘Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât.’  Lalu Aku terbangun dan aku beritakan pada penumpang perahu tentang mimpi yang aku alami, kami pun membaca shalawat tersebut, dan ketika mencapai sekitar bilangan 300, badai pun reda,”. Dari salah satu rujukan inilah, penulis menjadi mantap tentang salah satu amalan dari eyang Nurrohman al Djamhari yang membaca sholawat mujiyat sebanyak seribu kali. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

 

Puji-Pujian Favorit

Puji-pujian merupakan tradisi di lingkungan santri Nahdhatul Ulama yang dilakukan setelah adzan sebelum iqomah dikumandangkan. Kebiasaan Eyang Nurrohman al Djamhari dalam menunggu jamaah datang, Beliau pasti melantunkan beberapa puji-pujian yang biasanya berupa bacaan dzikir, sholawat Nabi, syair-syair, dan lain-lain. Sepanjang hidup Beliau, penulis perhatikan ada yang menjadi puji-pujian favoritnya. Yakni qasidahnya Syekh Abdul Qodir Al-Jilani yang isinya merupakan curahan isi hati seorang kekasih Alloh SWT yang tidak pernah merasa galau dan tidak ada rasa khawatir hidup di dunia ini, serta tidak takut didholimi orang lain karena memiliki Alloh SWT sebagai sang penolong dan penopang hidup. Dalam Syair itu diibaratkan seorang penggembala yang tangkas, tidak akan kehilangan unta gembalanya di padang pasir karena sudah diikat dengan sangat kuat. Adapun redaksi qashidahnya adalah sebagai berikut:

 

ايدركني ضيم وأنت ذخيرتي         وأظلم فى الدنيا وأنت نصيري

وعار على راعي الحمى وهو قادر    إذاضاع فى البيداء عقال بعير

 

Sholat Witir Sebelum Tidur

Sholat sunnah witir sebelum tidur menjadi salah satu amalannya eyang Nurrohman al Djamhari. Biasanya Beliau melakukannya dengan cara berjama’ah bersama jama’ah musholla al-Wustho, tentunya setelah melakukan sholat jama’ah Isya dan sholat sunnah ba’diyah Isya. Kebiasaannya ini dilakukan dengan istiqomah, karena sudah sesuai dengan tuntunan dari Nabi Muhammad Saw, berupa hadits :

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال اوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث صيام ثلاثة ايام من كل شهر وركعتي الضحى وان اوتر قبل ان انام[17]

“Dari Abu Hurairoh R.A berkata: Kekasihku (Nabi Muhammad Saw) memberi wasiat kepadaku tiga perkara, yakni: puasa tiga hari tiap bulan, dua roka’at sholat Dhuha, dan sholat witir sebelum saya tidur.”

Dzikir Fida

Dzikir Fida ini merupakan amalan rutin semenjak zaman hidupnya mbah KH. Ahmad Chusnan sekitar tahun 1983 M. Pada saat itu, Dzikir Fida ini dikenalkan di Sidabowa oleh mbah KH.Sholeh Mustofa dari Pancasan Ajibarang. Adapun amalan Dzikir Fida ini, kata eyang Nurrohman al Djamhari merupakan “sempalan dari thoriqoh Syadziliyah, karena yang mengajarkan adalah mursyid Syadziliyah (KH. Soleh Mustofa), dan amalan dzikirnya juga mirip, yakni sebelum membaca kalimat tahlil, terlebih dahulu membaca istighfar seratus kali dan sholawat nabi juga seratus kali, kemudian dilanjutkan membaca kalimat toyyibah nafi itsbat sebanyak tujuh puluh ribu kali dibaca berjamaah.

Adapun yang menjadi dasar landasan hukum tentang amalan ini adalah al-Qur’an Surat Al- Ahzab ayat 41, yang menerangkan bahwa kita selaku orang yang beriman diperintahkan untuk senantiasa ingat (dzikir) kepada Alloh SWT sebanyak-banyaknya.

ياأيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Alloh dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”

Dengan dasar dari Al-Qur’an tersebut maka kita menjadi tidak ragu lagi untuk mengamalkan amalan dzikir fida ini, dengan niat mengharap rida dari Alloh SWT dan dilakukan dengan penuh penghayatan. Selain itu, ada keterangan dari kitab Syarh Irsyadul Ibad yang juga menjadi penebal dasar landasan pijakan mengamalkan dzikir fida ini. Yang mana amalan dzikir fida ini juga dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang sholeh-sholeh, disana dijelaskan:

عن الشيخ أبي زيد القرطبي قال سمعت فى بعض الآثار أن من قال لاإله إلا الله سبعين ألف مرة كانت له فداء من النار[18]

“Diceritakan dari Syekh Abu Zaid al-Qurtubi berkata: saya mendengar dari sebagian Atsar(perkataan sahabat) bahwasanya orang yang membaca kalimat La ilaha illalloh sebanyak tujuh puluh ribu kali, maka kalimat itu menjadi tebusan dari neraka.”

Selain itu, juga terdapat hadis Nabi Muhammad Saw yang menerangkan bahwa utama-utamanya dzikir adalah kalimat la ilaha illalloh:

عن جابر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم  يقول افضل الذكر لاإله إلاالله ( رواه الترمذي ) وقال حديث حسن[19]

“Dari Jabir R.A berkata: saya mendengar Rasululloh Saw bersabda: utama-utamanya dzikir ialah kalimat La ilaha illalloh.”

Berikut ini, tampilan amalan dzikir fida yang penulis dapatkan dari eyang Nurrohman al Djamhari. Dengan harapan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang mau mengamalkannya:

ذكر فداء

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم, وماتقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عندالله هوخيرا وأعظم أجرا واستغفرواالله إن الله غفور رحيم

 

سبحان الملك القدوس الخلاق الفعال  x ٧

ٳن يشأيذهبكم ويأتي بخالق جديد وماذلك على الله بعزيز

لبيك مولاي وسعديك بطوفيقك امتثلت لأمرك مستعينابك

اللهم إني أستغفرك أتوب إليك

أستغفر الله العظيم      x١٠٠

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد   x١٠٠

نويت الذكر تقربا إلى الله وخروجا عن المعصية,

أفضل الذكر قول: لا إله إلا الله ( الباقي بعد فناء خلقه )

لا إله إلا الله ( العافي بعد قدرته )

 لا إله إلا الله ( كل شيئ هالك إلا وجهه له الحكم وإليه ترجعون,

محمد رسول الله)

لا إله إلا الله   x70.000

لا إله إلا الله الموجود في كل زمان

لا إله إلا الله المعبود في كل مكان

لا إله إلا الله المذكور بكل لسان

لا إله إلا الله كل يوم هو فى شأن

لا إله إلا الله المعروف بالإحسان

لا إله إلا الله الآمان الآمان فى زوال الإيمان ومن فتنة الشيطان ياقديم الإحسان كم لك علينا الإحسان ياحنان يامنان يارحيم يارحمٰن ياغفور ياغفار اغفرلنا وارحمنا وأنت خير الراحمين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

دعاء فداء

اللهم إناهلّلْنابهٰذه سبعين ألف تهليلة وأهديناثوابهالِــ...........

ونشهدك أنا قداشترينا بها........وفديناه منك من النار بثواب هٰذه سبعين ألف تهليلة فاعتقه من النار وفكه بها من النار وخلّصه بها من النار واجزه بها من النار واعذه بها من النار وادخله الجنة مع الأبرار إنك أنت العفوُّ الغفّار الرحيم الستّار الكريم الجبّار الواحد القهّار وصلى الله على سيدنا ومولانا محمّد المختار وآله الأطهار وأصحابه الأخيار عدد نعم الله وإفضاله آمين آمين آمين يارب العالمين

سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين

والحمد لله رب العالمين

Dzikir dan Do’a Sebelum Sholat Shubuh

Ada salah satu amalan eyang Nurrohman al Djamhari yang penulis amati selalu dilakukan setelah selesei sholat sunnah qobliyah shubuh, ialah dzikir dan do’a sambil menunggu iqomah untuk melakukan sholat shubuh berjam’ah. Ternyata amalan ini sama persis dilakukan oleh jama’ah masjid Agung Al-Anwar Kota Pasuruan yang penulis amati langsung pada saat berziarah ke makam mbah Abdul Hamid Pasuruan, yakni sebagai berikut:

ياحي ياقيوم لا إله إلا أنت              x٤١

لا إله إلا الله الملك الحق المبين     x١٠٠

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم أستغفر الله   x١٠٠

Setelah dzikir tersebut diatas, kemudian ditutup dengan do’a:

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين اللهم بحق الحسن وأخيه وجده وأبيه وأمه وبنيه نجنامن الغم الذي نحن فيه ياحي ياقيوم نسألك أن تنور قلوبنا بنور معرفتك يامحيي الموتى اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل وعزرائيل وحملة العرش ورب سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم أجرنا من النار برحمتك ياأرحم الراحمين

Eyang Nurrohman al Djamhari pernah memberikan keterangan mengenai dzikir dan do’a sebelum sholat shubuh, diantaranya adalah memohon kepada Alloh SWT wasilah dzikir dan do’a tersebut agar dikaruniai keturunan yang cerdas-cerdas makrifat kepada Alloh SWT, tentu saja dengan dibarengi usaha mendidik anak cucu dengan baik, dan dibekali ilmu pengetahuan dengan cara anak cucu diperintahkan untuk mengkaji ilmu agama dan masuk ke lembaga pendidikan pesantren atau sekolah-sekolah.

Di dalam kitab al-Adzkar an- Nawawiyah, disana diterangkan tentang do’a yang dibaca setelah melakukan sholat sunnah qobliyah shubuh, yakni sebagai berikut:

وروينا فى كتاب ابن السنى عن أبى المليح واسمه عامر ابن أسامة عن أبيه رضي الله عنه أنه صلى ركعتي الفجر وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى قريبا منه ركعتين خفيفتين ثم سمعه يقول وهو جالس اللهم رب جبريل وإسرافيل وميكائيل ومحمد النبي صلى الله عليه وسلم أعوذبك من النار ثلاث مرات[20]

“Dan menceritakan kepada Kami di dalam kitab Ibnu Sina dari Abil Malih yang bernama Amir bin Usamah dari ayahnya, bahwasannya ayahnya sholat sunnah dua rokaat sebelum shubuh dan Nabi Muhammad Saw sholat dua rokaat yang ringan kemudian ayahnya Amir mendengar Rosululloh Saw berdo’a dalam keadaan duduk: Ya Alloh Tuhannya Malaikat Jibril, Isrofil, Mikail, dan Muhammad Saw saya berlindung kepadaMu dari neraka, diucapkan tiga kali.”

Mengusap Wajah Setelah Selesai Sholat

Dalam satu kesempatan eyang Nurrohman al Djamhari menerangkan kepada jama’ah musholla al-Wustho mengenai hidup di dunia ini pasti semua manusia memiliki problem atau masalah dunia yang menjadikan manusia bersedih dll. Tugas kita adalah berusaha menghadapi masalah-masalah dunia ini dengan ikhtiar yang terbaik dan diimbangi dengan terus berdo’a memohon kepada Alloh SWT agar kehidupan kita di dunia ini tidak terus menerus bersedih menghadapi masalah-masalah atau problematika kehidupan (bayen, muyen, sunaten, penganten dan kepaten). Diantara yang diajarkan beliau adalah setiap selesai salam dari sholat, tangan kanan diletakkan ke dahi sambil berdoa sebagai berikut:

أشهد ان لا إله إلا الله الرحمن الرحيم اللهم أذهب عني الهم والحزن, الله شاهدي, الله حاضري, الله مطلع علي

Do’a tersebut diatas adalah kita memohon kepada Alloh SWT agar dihilangkan dari sedih dan susah. Maksudnya kita minta dihilangkan dari sifat khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi dan dihilangkan dari sifat susah yang berkelanjutan dari sesuatu yang sudah terjadi pada diri kita. Adapun rujukan yang menjadi dasar amalan ini adalah terdapat dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah sebagai berikut:

وروينا فى كتاب ابن السنى عن أنس رضي الله عنه قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ثم قال أشهد ان لا إله إلا الله الرحمن الرحيم اللهم أذهب عني الهم والحزن[21]

Dan menceritakan kepada Kami di dalam kitab Ibnu Sina dari Anas R.A berkata: Rasululloh Saw ketika selesei melakukan sholat, mengusap dahinya dengan tangan kanannya kemudian membaca do’a: saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang, Ya Alloh hilangkanlah dariku kesedihan dan kesusahan.”

Eyang Nurrohman Al Djamhari menambahkan redaksi do’a diatas sebagai bentuk pengingat tentang pentingnya muroqobah. Muroqobah ini adalah bentuk perasaan seorang hamba yang selalu merasa disaksikan dan diawasi secara terus menerus oleh Alloh SWT. Dengan demikian hidup kita menjadi selalu waspada, tidak semaunya sendiri, karena segala gerak gerik kita dipantau oleh Alloh SWT.

Rutin Membaca Lam Yahtalim

Bacaan syair Lam Yahtalim secara rutin diamalkan oleh jama’ah musholla al-Wustho setiap selesei melakukan dzikir setelah sholat lima waktu. Eyang Nurrohman al Djamhari selalu mengingatkan jama’ahnya agar setiap ke Musholla, jangan bergegas pulang sebelum selesei membaca syair Lam Yahtalim ini. Lebih lanjut Beliau menerangkan khasiat syair ini adalah agar diamankan oleh Alloh SWT dari kebakaran, pencurian dan wabah. Ternyata Syair Lam Yahtalim ini juga tertulis dalam Kitab Maroqil Ubudiyyah Syarh Bidayatil Hidayah sebagai berikut:

لم يحتلم قط طه مطلقا أبدا          وما تثاءب أصلا فى مدى الزمن

منه الدواب فلم تهرب وماوقعت      ذبابة أبدا فى جسمه الحسن

بخلفه كأمام رؤية ثبتت                   ولايرى أثر بول منه فى علن

وقلبه لم ينم والعين قدنعست       ولايرى ظله فى الشمس ذوفطن

كتفاه قدعلتا قوما إذاجلسوا           عند الولادة صف ياذا بمختتن

هذه الخصائص فاحفظها تكن أمنا    من شر نار وسراق ومن محن

اللهم صل على محمد يارب صل عليه وسلم  

اللهم صل على محمد رسول الله يا الله ياذا الجلال والإكرام

أمتنا على دين الإسلام

1.      Nabi Muhammad Saw tidak pernah mimpi ihtilam (bersetubuh) selamanya, Beliau juga tidak pernah menguap sepanjang masa.

2.      Tidak ada satupun binatang yang melarikan diri darinya, dan tidak ada lalat yang hinggap di tubuh beliau yang mulia.

3.      Beliau bisa mengetahui sesuatu yang ada dibelakangnya seperti beliau melihat sesuatu yang berada didepannya, bekas air kencing beliau tidak pernah terlihat di permukaan bumi.

4.      Hati beliau tidak pernah tidur walau mata beliau mengantuk, dan bayangan beliau tidak pernah dapat dilihat oleh orang cerdas ketika beliau kena sinar matahari.

5.      Dua pundak beliau selalu lebih tinggi dari pundak orang-orang yang duduk bersama beliau, Ceritakanlah sifat beliau bahwa beliau telah dikhitan sejak dilahirkan.

6.      Ini semua merupakan keistimewaan Beliau, hendaklah engkau hafalkan bait tersebut, niscaya engkau akan mendapat perlindungan Alloh dari bahaya kebakaran, pencurian dan musibah.

 

Keistimewaan-keisimewaan Nabi Muhammad Saw yang terkandung dalam syair bait-bait diatas, memiliki dalil-dalil yang menjadi landasan, yakni:

Keistimewaan Nabi tentang tidak pernah ihtilam, terdapat keterangan dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

ما احتلم نبي قط إنما الإحتلام من الشيطان

“Tidaklah seorang nabi bermimpi basah selamanya, karena mimpi basah itu datang dari setan.”

Nabi Muhammad Saw tidak pernah menguap, ini terdapat keterangan dalam kitab fathul bari karya Ibnu HAjar al-Asqalani:

ومن الخصائص النبوية ما أخرجه بن أبي شيبة والبخاري فى التاريخ من مرسل يزيد ابن الأصم قال ماتثاءب النبي صلى الله عليه وسلم قط وأخرج الخطابي من طريق مسلمة بن عبدالملك بن مروان قال ماتثاءب نبي قط ومسلمة أدرك بعض الصحابة وهوصدوق ويؤيد ذلك ماثبت أن التثاؤب من الشيطان

“Termasuk keistimewaan kenabian adalah yang telah ditakhrij oleh ibnu Abi Syaibah dan Al-Bukhori dalam al-Tarikh dari hadis Mursal Yazid bin Ashom beliau berkata: Nabi Muhammad Saw tidak pernah menguap sama sekali. Al-Khottobi mengeluarkan dari jalur Maslamah bin Abdul malik bin Marwan, beliau berkata: seorang Nabi tidak pernah menguap sama sekali. Sedangkan Maslamah ini pernah menjumpai sebagian sahabat Nabi dan beliau adalah orang yang berkata benar. Riwayat ini juga didukung oleh riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa menguap datang dari setan.”

Tidak ada satupun binatang yang melarikan diri dari Nabi Muhammad Saw, hal ini diriwayatkan oleh Qadhi ‘Iyad yang sanadnya sampai kepasa ‘Aisyah, beliau berkata:

كان عندنا داجن فإذا كان عندنا رسول الله صلى الله عليه وسلم قر وثبت مكانه فلم يجئ ولم يذهب وإذا خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم جاء وذهب

“Di sisi kami ada binatang jinak, apabila Rasululloh Saw bersama kami, maka binatang itu tenang dan tetap pada tempatnya. tetapi jika Rasululloh Saw keluar, maka binatang itu datang dan pergi.”

Adapun dalil yang yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw dapat melihat dibelakangnya sama seperti ketika melihat didepannya, adalah hadis dari Abu Hurairoh R.A :

هل ترون قبلتي ههنا فوالله مايخفى علي ركوعكم ولاسجودكم إني لأراكم وراء ظهري

“Apakah kalian melihat kiblatku disini? Demi Alloh tidak tersembunyi atasku ruku’ dan sujud kalian, sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakangku.”

Salah satu keistimewaan Beliau, yakni air kencing Beliau tidak pernah terlihat di permukaan bumi. Hal ini dapat diketahui dari suatu riwayat dari istri Beliau yang bernama ‘Aisyah berkata:

يارسول الله إني أراك تدخل الخلاء ثم يجيء الذي يدخل بعدك فلا يرى لما يخرج منك أثرا فقال ياعائشة إن الله تعالى امر الأرض ان تبتلع ما خرج من الأنبياء

“Wahai Rasulalloh Saw sesungguhnya saya meliahat engkau memasuki jamban, kemudian masuk orang-orang sesudahmu, tetapi orang itu tidak melihat bekas apapun yang keluar darimu, Rasulullh Saw bersabda: wahai ‘Aisyah sesungguhnya Alloh SWT memerintahkan bumi menelan apa yang keluar dari para Nabi.”

Di dalam kitab syarh al Muwatha’, al Zarqani mengatakan:

وذكر رزين وغيره كان إذاجلس يكون كتفه أعلى من جميع الجالسين ودليله قول علي إذاجاءمع القوم غمر هم إذهو شامل للمشي والجلوس

“Razin dan lainnya telah menuturkan bahwa Rasululloh Saw apabila duduk, bahunya Nampak lebih tinggi dari semua orang-orang yang duduk. DAlilnya perkataan Ali: apabila Rasululloh Saw bersama kaum, Beliau melebihi mereka, karena ini mencakup apabila berjalan dan duduk.”

 Membaca Musabbi’at

Eyang Nurrohman al Djamhari senantiasa mengistiqomahkan membaca musabbi’at setiap selesai Sholat Jama’ah Jum’at. Musabbi’at ini adalah bacaan surat Al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas masing masing dibaca sebanyak tujuh kali. Amalan ini berdasar dari informasi di dalam Kitab Kasyifatus Saja Syarh Safinatun Naja karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani At-Tanari Asy Syafi’I sebagai berikut:

أن من قرأ عقب سلمه من الجمعة قبل ان يثني رجله الفاتحة والإخلاص والمعوذتين سبعا سبعا غفر له ماتقدم من ذنبه وماتأخر وأعطي من الأجر بعدد من آمن بالله ورسوله

“Barangsiapa setelah salam sholat Jum’at sebelum merubah posisi kakinya (dari duduk) yang membaca surat al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas sebanyak tujuh kali tujuh kali, maka ia akan diampuni dosanya dan akan diberi pahala sebanyak orang yang iman kepada Alloh dan RosulNya.”

Menjadi Muroqqi

Eyang Nurrohman al Djamhari sering kali ditunjuk oleh takmir masjid untuk menjadi muroqqi atau yang lebih familiar di kalangan kita dengan istilah bilal. Baik dalam sholat Jum’at maupun menjadi muroqqi ketika sholat Idul Fitri maupun Idul Adha. Kita selaku anak, cucu dan atau murid beliau, seyogyanya mampu dan mau apabila kita ditunjuk di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi muroqqi atau bilal. Berikut penulis tampilkan bacaan muroqqi atau bilal ketika sholat Idul Fitri atau idul Adha(tinggal dirubah saja nama sholat ‘idnya):

BACAAN MUROQQI/BILAL SEBELUM SHOLAT ‘IDUL FITRI

ألله أكبر ٣X لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر ولله الحمد.

الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا

لا إله إلا الله ولانعبد إلاإياه مخلصين له الدين ولوكره الكافرون

لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصرعبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر ولله الحمد.

صلوا سنة لعيد الفطر ركعتين رحمكم الله٢x

 الصلاة لا إله إلاالله محمد رسول الله. 

BACAAN MUROQQI/BILAL SETELAH SHOLAT ‘IDUL FITRI

 

يامعاشرالمسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله إعلموا أن يومكم هذا يوم عيدالفطر ويوم الأكبر ويوم السرور ويوم احل الله لكم فيه الطعام وحرم عليكم فيه الصيام.

 أنصتوا واسمعوا وأطيعوا رحمكم الله٢X

أنصتوا لاإله إلا الله محمد رسول الله

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد اللهم قو الإسلام من المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات وانصرنا على إقامة الدين رب اختم لنا منك بالخير وياخير الناصرين برحمتك ياأرحم الراحمين

Membaca Do’a Hizib

Eyang Nurrohman al Djamhari biasa melafalkan do’a hizib Nashor setelah Sholat Maghrib dan Sholat Shubuh tanpa membaca karena sangat hafal. Serta sesekali membaca do’a hizib Bahr pada saat-saat tertentu. Do’a hizib ini merupakan kumpulan do’a-do’a yang disusun oleh Imam Abi Hasan Ali Asy Syadzili. Bahkan dalam kitab al-Kunuz an-Nuraniyah  Sayid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini menerangkan tentang faidah hizib Bahr :

قال عنه الإمام الشاذلي وهوحزب عظيم القدر ماقرئ على الخائف إلاأمن ولامريض إلاشفي ولاعلى ملهف إلا زال عنه لهفه ولوقرئ حزبي هذاعلى بغداد أخذتهاالتتار وماقرئ فى مكان إلا سلم الأفات وحفظ من العاهات وسميته العدة الوافية والجنة الوقية ومن قرأه عندطلوع الشمس أجاب الله دعوته وفرج كربته ورفع قدره وشرح صدره وأمن عن طوارق الجن والإنس

“Imam Syadzili berkata mengenai hizib ini: Hizib Bahr ini merupakan hizib yang agung derajatnya. Hizib ini tidaklah dibaca pada orang yang sedang takut/khawatir melainkan ia akan aman, pada orang sakit melainkan ia akan sembuh, pada orang yang sedang bersedih kecuali hilang kesedihannya. Kalau saja hizib ini dibaca di tanah Irak tentu tidak akan diekspansi oleh kaum Tar-Tar. Tidaklah hizib ini dibaca di suatu tempat, kecuali akan aman dari mara bahaya dan terjaga dari hama. Aku menamakan hizib ini dengan nama al-‘Iddah al-Wafiyah wa al-Junnah al-Waqiyah. Barangsiapa membaca hizib ini tatkala terbitnya matahari, maka Allah akan mengabulkan doanya, menghilangkan kegelisahannya, mengangkat derajatnya, melapangkan dadanya dan akan aman dari gangguan jin dan manusia.”

Berikut ini bacaan Hizib Bahr yang biasa dibaca[22] oleh eyang Nurrohman al Djamhari:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم ياعلي ياعظيم ياحليم ياعليم أنت ربي وعلمك حسبي فنعم الرب ربي ونعم الحسب حسبي تنصر من تشاء وأنت العزيز الرحيم نسألك العصمة فى الحركات والسكنات والكلمات والإرادات والخطرات من الشكوك والظنون والأوهام الساترة للقلوب عن مُطالعة الغيوب فقدابتلي المؤمنون وزلزلوا زلزالا شديدا وإذيقول المنافقون والذين فى قلوبهم مرض ماوعدنا الله ورسوله إلاغرورا فثبتنا وانصرنا وسخرلنا هذا البحر كماسخرت البحر لسيدنا موسى وسخرت النار لسيدنا إبراهيم وسخرت الجبال والحديد لسيدنا داود وسخرت الريح والجن والشياطين لسيدنا سليمان وسخر لنا كل بحرٍ هو لك فى الأرض والسماء والملك والملكوت وبحر الدنيا والأخرة وسخر لنا كل شيئ يامن بيده ملكوت كل شيئ كٓهٰيٰعٓصٓ اُنصرنا فإنك خير الناصرين وافتح لنا فإنك خيرالفاتحين واغفر لنا فإنك خيرالغافرين وارحمنا فإنك خير الراحمين وارزقنا فإنك خير الرازقين واهدنا ونجنا من القوم الظالمين وهب لنا ريحاطيبة كما هي فى علمك وانشرها علينا من خزائن رحمتك واحملنا بها حمل الكرامة مع السلامة والعافية فى الدين والدنيا والأخرة إنك على كل شيئ قدير اللهم يسرلنا أمورنا مع الراحة لقلوبنا وأبداننا والسلامة والعافية فى ديننا ودنيانا وكن لنا صاحبا فى سفرنا وحضرنا وخليفة فى أهلنا واطمس على وجوه أعدائنا وامسخهم على مكانتهم فلايستطيعون المضي ولاالمجيئ إلينا ولونشاء لطمسنا على أعينهم فاستبقوا الصراط فأنا يبصرون ولونشاء لمسخنهم على مكانتهم فمااستطاعوا مضيا ولايرجعون يس والقرأن الحكيم إنك لمن المرسلين على صراط مستقيم تنزيل العزيز الرحيم لتنذر قوماما أنذر أباءهم فهم غافلون لقد حق القول على أكثرهم فهم لايؤمنون إناجعلنا في أعناقهم أغلالافهي إلى الأذقان فهم مقمحون وجعلنامن بين أيديهم سدا ومن خلفهم سدا فأغشينهم فهم لايبصرون شاهت الوجوه شاهت الوجوه شاهت الوجوه وعنت الوجوه للحي القيوم وقدخاب من حمل ظلما طس حم حم عسق مرج البحرين يلتقيان بينهمابرزخ لايبغيان (حم حم حم حم حم حم حم) حُمَّ الأمر وجاءالنصر فعلينا لاينصرون حم تنزيل الكتاب من الله العزيز العليم غافر الذنب وقابل التوب شديدالعقاب ذى الطول لا إله إلاهو إليه المصير بسم الله بابنا تبارك حيطاننا يس سقفنا كهيعص كفايتنا (فسيكفيكهم الله وهوالسميع العليم x٣ ) سترالعرش مسبول عليناوعين الله ناظرة إلينابحول الله لايُقْدَرُ علينا والله من ورائهم محيط بل هو قرأن مجيد فى لوح محفوظ (فاالله خير حافظا وهو أرحم الراحمين x٣) (إن وليي اللهُ الذي نزل الكتاب وهو يتولى الصالحين x٣) (حسبي الله لاإله إلاهو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم x٣) (ولاحول ولاقوة إلا باالله العلي العظيمx٣) (بسم الله الذي لايضرمع اسمه شيئ فى الأرض ولافى السماء وهوالسميع العليم x٣) (أعوذبكلمات الله التامات من شرما خلق x٣ ) وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم تسليما والحمدلله رب العالمين.


[1] Kitab Riyadus Sholihin karya Imam an-Nawawi, hal 529.

[2] Nama Ahmad Husnan ini merujuk dari buku “catatan pengajian saking poro guru” yang ditulis tangan langsung oleh KH. Ahmad Chusnan pada tanggal 1 Agustus 1964 M / 24 Robiul Akhir 1384 H.

[3] Kitab Riyadus Sholihin karya Imam an-Nawawi, hal 449.

[4] Kitab Riyadus Sholihin karya Imam an-Nawawi, hal 430.

[5] Ibid, hal 435

[6] Ibid, hal 459.

[7] Ibid, hal 462.

[8] Kitab Riyadus Sholihin karya Imam an-Nawawi, hal 463

[9] Ibid, hal 464.

[10] Ibid

[11] Dalilnya di dalam KItab Khozinatul Asror Karya Sayid Muhammad Haqqi An-Nazili, hal 37.

[12] Kitab Hujjatu Ahli Sunnah wal Jama’ah Karya KH. Ali Maksum, Hal 10-11.

[13] Kitab Riyadus Sholihin karya Imam an-Nawawi, hal 448-449.

[14] Kitab Khozinatul Asror karya Sayid Muhammad Haqqi an Nazili, hal 30.

[15] Ibid.

[16] Kitab I’anatut Tholibin Juz 1 karya Sayid Abu Bakar Syatho, hal 258-259.

[17] Kitab Riyadus Sholihin karya Imam an-Nawawi, hal 498.

[18] Kitab Syarh Irsyadul Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin al Malibari, hal 4.

[19] Kitab Riyadus Sholihin karya Imam an-Nawawi, hal 544.

[20] Kitab Al-Adzkar an-Nawawiyyah karya Imam an-Nawawi, hal 32.

[21] Kitab Al-Adzkar an-Nawawiyyah karya Imam an-Nawawi, hal 60.

[22] Buku “catatan pengajian saking poro guru” yang ditulis tangan oleh KH. Ahmad Chusnan pada tanggal 1 Agustus 1964 M / 24 Robiul Akhir 1384 H.


Meraih Sukses

  PEMBUKAAN بسم الله الرحمن الرحيم Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan berbagai kenikmat...